Lay..lay..lay..panggil aku si Alay..
Alay merupakan akronim dari anak layangan, berasal dari kata “A” dan “Lay”. Dalam hal ini saya tidak mendefinisikan bahwa permainan layang-layang mengakibatkan dampak buruk bagi pemainnya, melainkan mereka yang notaben-nya berkulit hitam akibat terbakar terik matahari serta rambut yang mulai berubah dari hitam pekat menjadi pirang(seperti bulu buah jagung).
Tidak sedikit pula dari masyarakat umum yang mengkategorikan alay sebagai pola hidup remaja kelas menengah kebawah yang kerap mengenakan dandanan trendy serupa dengan artis. Hal ini didukung dengan adanya media elektronik yang memuat keglamouran para artis yang sering kali menjadi pusat perhatian publik.
Ya, intinya para alay ingin juga tampil sebagai sorotan meskipun kadang memaksakan dengan keterbatasan materi dan keterbatasan pendidikan juga tentunya.
Mereka tidak perduli disebut pencontek gaya orang atau pun si nora dengan gaya yang agak sedikit maksa asal nyerempet-nyerempet dikit dengan gaya sang artis.
Ada pula yang mendefinisikan bahwa alay adalah anak lebay, lebay yang memiliki arti lebih, sangat cocok disematkan pada alay yang pada umumnya bertingkah laku lebih dari batas kewajarannya, contohnya: para kaum alay sering menganggap sesuatu yang fenomenal dan berbuah sensasi adalah bentuk kebanggaan yang bisa mengakat derajatnya hingga bisa disebut anak gaul(anak yang tidak kuper atau ketinggalan perkembangan zaman).
Secara sudut pandang saya jika saya sebagai remaja masa kini, mungkin saya juga akan tergiur dengan rutinitas yang dilakukan para alay, meskipun setelah disadari bahwa banyak tindakan yang dapat mempermalukan saya sendiri atau bahkan mempersulit dan merugikan. Seperti misalnya:
- memaksakan kehendak mengikuti fashion sesuai perkembangan zaman, meski terlihat kurang pantas atau kurang nyaman untuk dikenakan (celana pres body yang sulit saat memakainya karena terlalu kecil ukurannya, anting-anting di bagian tubuh seperti lidah dan hidung yang meskipun sakit yang penting gaya, dan masih banyak lagi)
- saat ini banyak sekali beredar situs jaringan sosial seperti Facebook, twitter, dan friendster atau sarana pengiriman pesan seperti SMS. Para alay kerap kali menggunakan kata-kata singkatan yang sulit untuk di mengerti (“lagi apa?” gi pha?? atau bosen banget jadi “bsen bgd nh”2. memakai simbol tambahan. “p@ k@bar L0e??” atau “~hha..~ y nh.. lg bosen~”3. menggunakan huruf Z dibelakang kata. “mlz bgtz!”)
- memamerkan barang tiruan terutama barang elektronik seolah-olah barang asli yang dibeli dengan harga tinggi(tetep aja jatohnya penipuan).
Apakah sang alay dapat merusak citra Negara kita?
Kita sebagai mahluk sosial yang bijaksana alangkah baiknya tidak memandang hal tersebut dengan sebelah mata. Tidak dapat dipungkiri pula masih banyak masyarakat miskin di Negara indonesia yang mungkin nasibnya tidak lebih beruntung dari pada mereka yang memang terlahir dengan keadaan yang serba terpenuhi.
Di dalam kehidupan gejolak para remaja, fenomena tersebut memang kerap ada. Fase dimana seseorang sedang mencari jati dirinya dengan meniru-niru orang lain. Tidak hanya di Indonesia saja, di Negara lain pun yang namanya krisis identitas pasti ada, tidak memandang ras maupun kasta. Sekarang kembali kepada pribadi masing-masing apakah nyaman dengan keadaan apa adanya atau bahkan ada yang harus mengubah-ubah untuk menemukan kenyamanan tersebut.

